Home » , » Elang Flores Endemik Yang terancam Punah

Elang Flores Endemik Yang terancam Punah

Written By made oka jaya diputra on Monday, October 1, 2012 | 6:40 PM


Elang Flores, Raptor Endemik Yang Terancam Punah

Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Falconiformes
Famili : Accipitridae
Genus : Spizaetus
Species : Spizaetus floris
Elang Flores (Spizaetus floris) merupakan salah satu jenis raptor (burung pemangsa) endemik yang dipunyai Indonesia. Sayangnya elang flores yang merupakan burung pemangsa endemik flores (Nusa Tenggara) ini kini menjadi raptor yang paling terancam punah lantaran populasinya diperkirakan tidak melebihi 250 ekor sehingga masuk dalam daftar merah (IUCN Redlist) sebagai Critically Endangered (Kritis). Status konservasi dan jumlah populasi ini jauh di bawah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang status konservasinya Endangered (Terancam).
Elang flores (Spizaetus floris) semula dikelompokkan sebagai anak jenis (subspesies) dari elang brontok (Spizaetus cirrhatus) dengan nama ilmiah (Spizaetus cirrhatus floris). Tetapi mulai tahun 2005, elang flores ditetapkan sebagai spesies tersendiri. Dan saat itu pula, elang flores yang merupakan raptor endemik Nusa Tenggara dianugerahi status konservasi Critically Endangered.
Elang flores dalam bahasa inggris dikenal sebagai Flores Hawk-eagle. Dalam bahasa ilmiah (latin) dikenal sebagai Spizaetus floris.

Ciri-ciri
Burung elang flores mempunyai ukuran tubuh yang sedang, dengan tubuh dewasa berukuran sekitar 55 cm. pada bagian kepala berbulu putih dan terkadang mempunyai garis-garis berwarna coklat pada bagian mahkota.

Tubuh elang flores berwarna coklat kehitam-hitaman. Sedangkan dada dan perut raptor endemik flores ini ditumbuhi bulu berwarna putih dengan corak tipis berwarna coklat kemerahan. Ekor elang flores berwarna coklat yang memiliki garis gelap sejumlah enam. Sedangkan kaki burung endemik ini berwarna putih.

Persebaran, Populasi, dan Konservasi.
Elang flores merupakan raptor (burung pemangsa) endemik Nusa Tenggara yang hanya dapat ditemukan di pulau Flores, Sumbawa, Lombok, Satonda, Paloe, Komodo, dan Rinca.

Burung ini biasa mendiami hutan-hutan dataran rendah dan hutan submontana sampai ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut.

Populasi raptor endemik flores ini di alam bebas diperkirakan tidak lebih dari 250 ekor individu dewasa (IUCN Redlist, 2005). Lantaran sedikitnya jumlah individu dan persebaran populasinya yang sempit maka elang flores (Spizaetus floris) langsung ditetapkan sebagai salah satu spesies burung dengan status konservasi “kritis” (Critically Endangered) sejak pertama kali raptor endemik ini berstatus sebagai spesies tersendiri yang terpisah dari elang brontok.

Persebaran, Populasi, dan Konservasi.
Elang flores merupakan raptor (burung pemangsa) endemik Nusa Tenggara yang hanya dapat ditemukan di pulau Flores, Sumbawa, Lombok, Satonda, Paloe, Komodo, dan Rinca.

Burung ini biasa mendiami hutan-hutan dataran rendah dan hutan submontana sampai ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut.

Populasi raptor endemik flores ini di alam bebas diperkirakan tidak lebih dari 250 ekor individu dewasa (IUCN Redlist, 2005). Lantaran sedikitnya jumlah individu dan persebaran populasinya yang sempit maka elang flores (Spizaetus floris) langsung ditetapkan sebagai salah satu spesies burung dengan status konservasi “kritis” (Critically Endangered) sejak pertama kali raptor endemik ini berstatus sebagai spesies tersendiri yang terpisah dari elang brontok.

 

Matanya tajam. Cantik saat hinggap dan bagai pesawat kala mengudara. Sudah lama kami menantikan kehadiran burung berukuran antara 71-82 cm ini, yang menurut para ahli merupakan jenis tersendiri meski berkerabat dekat dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus). Elang flores (Spizaetus floris) merupakan satwa bersayap yang dicari pengamat burung dalam dan luar negeri.

Dua tahun lalu, bersama Mickhael Sackhelfor, pengamat burung profesional asal Texas, kami mencarinya. Tak tanggung-tanggung, selama lima hari kami bergerilya mulai dari Mbeliling, Ruteng, Golo Lusang, Poco Ranaka, Ranamese, hingga Manggarai Timur (Flores). Hasilnya, kami pulang dengan tangan hampa dan wajah tertunduk.

Memori usang yang masih membekas itu terbayar di penghujung November 2011, ketika kami melakukan pengamatan di Puar Lolo. Wilayah ini merupakan bagian dari kawasan Mbeliling (barat daya Flores, Manggarai Barat, NTT) yang merupakan habitat berbagai jenis burung. Salah satunya adalah kehicap flores (Monarcha sacerdotum), yang hanya ada di Flores.

Tanpa disangka, kami berhasil melihat kehadiran elang flores yang bertengger di atas cabang pohon besar. Jaraknya sekitar lima puluh meter dari jalan raya trans-Flores. Kami cukup girang dengan pertemuan ini, begitu juga dengan Barend van Gemerden, teman asal Belanda, yang asik memotretnya. Menurut Barend, tidak ada alasan untuk tidak melihat elang flores meski kehadirannya sulit dipantau.

Untuk meyakinkan apa yang kami lihat, kami mengirimkan foto tersebut ke Bas van Ballen. Menurut ornitologiwan asal Belanda itu, apa yang kami identifikasi memang benar elang flores, setelah ia mencocokkan dengan spesimen yang ada di museum.
Elang flores makin melengkapi khasanah burung endemik Flores seperti kehicap flores (Monorcha sacerdatum), serindit flores (Loriculus flosculus), gagak flores (Corvus florensis), dan celepuk Flores (Otus alfredi). Kawasan Mbeliling juga dihuni burung sebaran terbatas yang cantik seperti cekakak tunggir-putih (Caridonax fulgidus), walik putih (Ptilinopus cinctus), celepuk wallacea (Otus silvicola), kancilan flores (Pachycephala nudigula), dan kancilan emas (Pachycephala pectoralis).
Sumber : Artikel Pertrama Di muat oleh kaskus.co.id dengan nama user tianCrz





Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. bli blogen - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger